59 Titik Ladang Ganja di TN Bromo Tengger Semeru Ditemukan Pakai Drone

 59 Titik Ladang Ganja di TN Bromo Tengger Semeru Ditemukan Pakai Drone




Penemuan 59 titik ladang ganja di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) baru-baru ini mengejutkan banyak pihak. Ladang-ladang ganja tersebut berhasil diidentifikasi melalui penggunaan teknologi drone, yang mengungkap aktivitas ilegal di area konservasi yang seharusnya dilindungi.


Menurut Kepala Bidang Wilayah II TNBTS, Decky Hendra, total terdapat 59 titik ladang ganja yang ditemukan di Desa Argosari, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang. Luas total area yang digunakan untuk penanaman ganja ini mencapai sekitar 1 hektare, dengan setiap titik memiliki luas bervariasi antara 4 meter persegi hingga 16 meter persegi. Penemuan ini menyoroti penggunaan teknologi drone dalam mengidentifikasi aktivitas ilegal di kawasan yang sulit dijangkau.

Reaksi dan Tindakan Legislator

Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi PKS, Johan Rosihan, mengkritik keras temuan ini. Ia menilai bahwa penemuan ladang ganja tersebut menunjukkan kelemahan dalam pengawasan kawasan konservasi dan pengelolaan hutan lindung. Johan mendesak Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengawasan di taman nasional guna mencegah kejadian serupa di masa mendatang.

Dampak terhadap Ekosistem

Penanaman ganja di kawasan TNBTS tidak hanya melanggar hukum, tetapi juga merusak ekosistem setempat. Lokasi penanaman ganja tersebut merupakan habitat asli bagi berbagai jenis tumbuhan dan satwa liar, termasuk lutung, rusa, dan ayam hutan. Aktivitas ilegal ini mengganggu keseimbangan ekosistem dan mengancam kelestarian flora dan fauna di kawasan tersebut.

Peran Teknologi dalam Pengawasan

Penggunaan drone dalam mengidentifikasi ladang ganja di TNBTS menunjukkan potensi teknologi dalam meningkatkan efektivitas pengawasan kawasan konservasi. Dengan bantuan drone, petugas dapat memantau area yang sulit dijangkau dan mendeteksi aktivitas ilegal dengan lebih efisien. Ke depan, pemanfaatan teknologi seperti drone dan citra satelit perlu diintensifkan untuk menjaga kelestarian taman nasional.

Keterlibatan Masyarakat dalam Pengawasan

Selain peningkatan teknologi pengawasan, keterlibatan masyarakat sekitar dalam menjaga kawasan konservasi juga sangat penting. Masyarakat dapat berperan sebagai pengawas dan pelapor jika menemukan aktivitas mencurigakan di sekitar mereka. Pemberdayaan masyarakat melalui edukasi dan pelatihan tentang pentingnya konservasi alam dapat menjadi langkah preventif dalam mencegah aktivitas ilegal di kawasan hutan lindung.

Langkah Selanjutnya

Penemuan ladang ganja di TNBTS harus menjadi momentum bagi semua pihak untuk meningkatkan upaya perlindungan dan pengawasan kawasan konservasi. KLHK bersama aparat penegak hukum perlu memperkuat koordinasi dan strategi dalam mencegah serta menindak tegas pelaku aktivitas ilegal di taman nasional. Selain itu, evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengawasan dan patroli harus segera dilakukan untuk memastikan kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.

Kesimpulan

Penemuan 59 titik ladang ganja di TNBTS melalui bantuan drone menyoroti pentingnya pengawasan yang lebih ketat dan penggunaan teknologi dalam menjaga kawasan konservasi. Kelemahan dalam sistem pengawasan saat ini harus segera diatasi melalui evaluasi dan reformasi yang komprehensif. Keterlibatan masyarakat dan pemanfaatan teknologi canggih dapat menjadi kunci dalam menjaga kelestarian taman nasional dari ancaman aktivitas ilegal. 

#LadangGanja  
#TNBromoTenggerSemeru  
#BromoTenggerSemeru  
#PenemuanGanja  
#DroneMonitoring  
#KonservasiAlam  
#KeamananHutan  
#GanjaIllegal  
#PengawasanTamanNasional  
#LingkunganHidup  
#HutanLestari  
#PatroliHutan  
#KelestarianAlam  
#StopPerusakanHutan  
#BerantasNarkoba



Lebih baru Lebih lama

atOptions = { 'key' : '59ea4a945a112260eec2cce50f0692e1', 'form

Magspot Blogger Template
Magspot Blogger Template

نموذج الاتصال